call me dini or nandi , im 21 years old... have finished my geodetic study and now work as general manager risadinar furniture eksport.. I tried to be productive with writing, the sidelines of the office activities and at midnight my insomnia...
18 Agustus 2011
ayah??
tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang
mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai
suara batuk-batuknya.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : “Ayah, mengapa wajah Ayah kian
berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?” Demikian
pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda. Ayahnya menjawab :
“Sebab aku Laki-laki.” Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam :
“Aku tidak mengerti.” Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya
tercenung rasa penasaran.
Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus
menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : “Anakku, kamu memang
belum mengerti tentang Laki-laki.” Demikian bisik Ayahnya, yang membuat
anak wanita itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya
kepada Ibunya : “Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya
kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada
keluhan dan rasa sakit?”
Ibunya menjawab : “Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar
bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.” Hanya itu
jawaban sang Ibu. Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa,
tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan
menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk? Hingga pada
suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia
mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian
kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.
“Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga
serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan
berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman,
teduh dan terlindungi.”
“Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang
menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula
untuk melindungi seluruh keluarganya.”
“Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang
berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar
keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari
anak-anaknya.”
“Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang
menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya
matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan
karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya
terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua
orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya.”
“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya
selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh
kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan
kerapkali menyerangnya.”
“Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi
mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun
juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai
hatinya.
Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman
pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya
itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu
anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama
saudara.”
“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan
pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat
mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh
anak-anaknya.”
“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan
pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang
setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa
menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun
duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap
kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan,
sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”
“Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu
senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara
agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang
terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung
jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat
tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi
kelangsungan hidup keluarganya.”
“Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin
keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan
sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki,
walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia.”
Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa
hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri kamar Ayahnya yang sedang
berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium
telapak tangan Ayahnya. “Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah.”
26 April 2011
layang kangen
Layangmu tak tompo wingi kuwi
Wis tak woco opo kareping atimu
Trenyuh ati iki, moco tulisanmu
Ra kroso netes elo ning pipiku
Umpomo kangenku dadi suwiwi
Iki ugo aku mesti enggal bali
Ning kepiye maneh, mergo kahananku
wong bagus entenono tekaku
Ra maedo sopo wong sing ora kangen
Ado bojo pengen turu angel merem
Ra maedo sopo wong sing ora trenyuh
Ra kepethuk sak wetoro pingin weruh
Percoyo aku
Kuatno atimu
wong bagus entenono tekaku
from this moment :)
I live only for your happiness
And for your love I’d give my last breath
From this moment on
I give my hand to you with all my heart
Can’t wait to live my life with you, can’t wait to start
You and I will never be apart
My dreams came true because of you
From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn’t give
From this moment on
You’re the reason I believe in love
And you’re the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us
My dreams came true because of you
From this moment as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing I wouldn’t give
From this moment
I will love you as long as I live
From this moment on
22 April 2011
chocolate talk
Aku akan menjadi seorang teman yang mengerti ketika kamu berkata “AKU LUPA”.yang menuggu selamanya ketika kamu berkata “TUNGGU SEBENTAR”, dan tetap berada disisi mu ketika kamu berkata “TINGGALKAN AKU,”
Aku pun akan jadi teman…yang saat kamu menangis,aku tak bisa berjanji bisa menghentikan tangismu,tapi aku akan menangis bersamamu.
jika kamu berlari, aku tak bisa berjanji untuk mengehentikanmu tapi aku bisa berlari bersamamu.
jika kamu ingin kan ketenangan,aku tak bisa berjanji untuk meninggalkanmu tetapi aku akan berada di sampingmu tanpa suara sedikitpun….
dan jika, kamu merasa tak di butuh kan…aku pasti selallu membutuhkanmu…..
(dikutip dari http://profiles.friendster.com/rekanita)
assalam,
akhirnya aku *in the mood* lagi buat sedikit ketik-ketik–kitik-kitik (hehe) di mini blog ini, setelah sekian lama kehilangan selera dan passion buat sekedar nulis keseharian atau cerita heboh disini
uhmmm,mengutip pernyataan yg ada di atas,
aku baru menyadari dengan SANGAT! bahwa jadi rekanita buat para prajurit TNI itu SANGAT-SANGAT-NGGA GAMPANG!
aku pikir awalnya cuma pacaran-nunggu-nikah-selesai
ternyata ga sesederhana itu?
proses menunggunya aja perlu makan waktu lama dan kesabaran ekstra,
bukan cuma dari kita (baca:perempuan) aja tapi dari si abang juga
wajar aja selama saya nyemplung jadi “pacar”nya TNI saya sering banget baca artikel tentang “bagaimana menghadapi pacar kita dengan baik dan benar” ternyata maksud dan tujuannya sangat jelas disitu (dan saya senang saat baca artikel” itu saya dapat masukkan baru__ ^^tnx)
ngomong-ngomong soal susahnya jadi rekanita, ada satu bahan lagi yang bikin saya rada *maju-mundur* buat nerusin hubungan sama si abang (baca:sempat agak sedikit–serius cuma sedikit ragu)
waktu baca novelnya mba jainar berliana : KARENINA–Before I Say I Do (udah baca kan?harus baca!!)
disitu wawasan saya amat-sangat-sungguh bertambah,
makin bertambah tentang ribetnya kerjaan si abang, makin tambah ngerti tentang *dunia* yg digelutinya tapi juga lebih mengerti gimana susahnya jadi pendamping-nya
dengan kesederhanaan mba jainar bercerita melalui tokoh Karenina tentang serangkaian *tes* yg harus dijalani oleh calon istri TENTARA itulah yg sempat bikin saya maju-mundur
apalagi soal kerjaan, yang bagi saya hal itu sangat-amat prinsipil, saya jadi takut kalo tiba-tiba nanti si abang bakal banyak tuntutan kaya tokoh “Abang Kapt.Uria Panyalombo” di buku itu
*GA BOLEH KERJA?*
mau jadi apa?tinggal dirumah?jujur ini bukan hobby sayaa
dan dari sini saya mulai menyadari bahwa kriteria seseorang yg berkecimpung di organisasi “PERSIT KARTIKA CANDRAKIRANA” sangat tipis dalam diri saya
oleh karena itulahhhhhh…
setelah baca novel ini saya mengerti apa yg harus saya ubah
kata tokoh abang dalam buku itu istri tentara itu harus “BERSAHAJA” (*jujur aku suka banget kata-kata itu–gara” abang yg bilang.hehe)
dan aku haruslah masuk setidaknya 80% dari kriteria bersahaja
dan masih banyak lagi kriteria lainnya yg sangat tipis potensinya ada pada diri aku, tapi yg aku lakukan adalah U S A H A
karena dapet si abang ga gampang (butuh penantian cukup panjang)
jadinya usaha mempertahankannyalah yg harus keras! bukan dengan cara memuja-muja dirinya, namun mempertahankannya dengan cara membuka matanya akan apa yg telah kita lakukan untuknya dan sisi positif apa yg dia kasi untuk kita sehingga kita menjadi lebih baik atau ngga (istilahnya buat dia bangga__^^)
last word,
mungkin pengalaman saya belum sepanjang orang-orang yang diatas saya
namun tulisan ini hanyalah sedikit curahan hati saya tentang betapa sulitnya mengerti dunia “REKANITA” saat pertama kalo berkecimpung didalamnya (–bisa jadi saya sangat mirip tokoh KARENINA yg *buta* akan dunia kemiliteran)
oleh karena itu, buat mba-mba yg udah duluan berkecimpung mohon bimbingannya…
regards,
chocolate